Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis).
Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”.
Dalam Kamus Jurnalistik, saya mengartikan Berita Bohong (Libel) sebagai berita yang tidak benar sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik.
Istilah lain berita bohong dalam konteks jurnalistik adalah Berita Buatan atau Berita Palsu (Fabricated News/Fake News).
Hampir sama dengan berita bohong, berita buatan adalah pemberitaan yang tidak berdasarkan kenyataan atau kebenaran (nonfactual) untuk maksud tertentu.
Dengan demikian, dalam dunia jurnalistik, hoax bukanlah hal baru.
Hoax bertumbuh-kembang seiring dengan popularitas media sosial.
Media sosial memungkinan semua orang menjadi publisher atau penyebar berita, bahkan “berita” yang dibuatnya sendiri, termasuk berita palsu atau hoax.
Hoax umumnya bertujuan untuk “having fun” atau humor. Namun, hoax juga bisa dijadikan alat propaganda dengan tujuan politis, misalnya melakukan pencitraan atau sebaliknya, memburukan citra seseorang atau kelompok.
Dewan Pers sampai melakukan sertifikasi media guna memerangi hoax. Padahal, menurut survei, hoax lebih banyak muncul dan tersebar di media sosial.
Ciri-Ciri Hoax
Menurut Dewan Pers, ciri-ciri hoax adalah sebagai berikut:
- Mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan.
- Sumber berita tidak jelas. Hoax di media sosial biasanya pemberitaan media yang tidak terverifikasi, tidak berimbang, dan cenderung menyudutkan pihak tertentu.
- Bermuatan fanatisme atas nama ideologi, judul, dan pengantarnya provokatif, memberikan penghukuman serta menyembunyikan fakta dan data.
Ciri khas lain hoax adalah adanya HURUF KAPITAL, huruf tebal (bold), banyak tanda seru, dan tanpa menyebutkan sumber informasi.
Cara Mengecek Hoax
Cara mengecek hoax sangat mudah, terutama jika berupa gambar atau foto.
Jika berupa gambar/foto, buka saja Google Image. Klik icon Kamera dan upload gambar yang mau dicek atau copas link/url gambar yang akan dicek kebenarannya.
Jika berupa link, cek URL-nya dan cek kredibilitas situsnya dengan mengidentifikasi pemilik situs atau admin websitenya di menu/halaman “About Us” atau “Tentang Kami”.
Jika informasi yang diduga hoax itu diperoleh di WhatsApp (WA), tanyakan kepada pengirimnya, dari mana ia memperoleh informasi tersebut Misinformasi
- Niat: Tidak disengaja atau karena kesalahan (misalnya, salah paham, salah konteks).
- Contoh: Seseorang membagikan berita di media sosial yang dia yakini benar, padahal berita tersebut sudah usang atau tidak akurat, karena dia tidak melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu.
- Masyarakat kurang terbiasa memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, mudah percaya pada berita yang muncul di media sosial atau grup chat.
- Hoax sering digunakan untuk tujuan politik atau ekonomi, seperti menjatuhkan lawan politik atau memecah belah kerukunan antar kelompok masyarakat.
- Beberapa pihak sengaja membuat hoax untuk mendapatkan keuntungan dari iklan di situs web atau untuk mencari perhatian dan sensasi di internet.
- Bias konfirmasi: Kecenderungan untuk mencari atau menafsirkan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah ada.
- Keinginan untuk merasa benar: Merasa nyaman dengan informasi yang mengafirmasi pandangan kelompoknya sendiri, meskipun kebenarannya belum tentu teruji.
- Bias konfirmasi: Kecenderungan untuk mencari atau menafsirkan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah ada.
- Niat: Sengaja dan memiliki tujuan jahat (misalnya, menipu, memanipulas
No comments:
Post a Comment